Ocehan Acak

ocehan acak dan/atau random ramblings.

Jun 28

Kasur

Jadi, di Vietnam ini hampir semua barang bisa dibawa dengan motor. Buah, sayuran, TV 42 inci, kulkas dua pintu, motor, hingga kasur. 

Yep. Kulkas, motor dan kasur. Dibawa dengan menggunakan motor. Sepeda motor, bukan perahu motor. Sepeda motor. 

I kid you not, dear readers. I kid you not.

Kira-kira 2-3 minggu lalu gue memergoki seorang Saigon yang memboncengi kulkas dua pintu, beberapa hari kemudian menonton video tentang orang Hanoi yang memboncengi motor, lalu pipa-pipa besi sepanjang 10 meter. 

Sabtu kemarin gue melihat dengan kepala sendiri dua buah sepeda motor yang mengangkut dua buah kasur. Bagaimana caranya? Kasur tersebut diletakkan secara horizontal di atas jok, dan si pengendara motor mengendarai motornya dari atas kasur. 

Juara. Ju to the a to the ra.

Tapi puncaknya bukan itu. Puncaknya Sabtu siang, saat gue dan seorang teman pulang dari sebuah pesta perpisahan, melepas perantau yang mau pindah merantau ke negara lain.

Kami berjalan melewati sederetan bangunan khas kota ini: ruko. 

Hmm, mungkin sebaiknya gue cerita dulu mengenai ruko ini. Jadi, bentuk rumah favorit di kota (apa di negaranya juga ya?) ini adalah ruko. Dan biasanya bangunan rumah toko ini gak lebar-lebar amat. Mereka kayaknya lebih baik sempit tapi tinggi daripada lebar tapi pendek. Jadi tidak mengherankan melihat rumah tingkat tiga tapi lebarnya cuma selebar pintu plus sebilah jendela.

Sumpah.

Sampai sekarang gue gak ngerti gimana caranya mereka masukin kasur dan tempat tidur ke lantai 3 rumah macam itu. Dibikin di dalem kamar, gue rasa.

So, anyway. Di Sabtu siang itu gue dan seorang teman berjalan menuju perhentian bus setelah makan siang gratis (always good, these free lunches—remember). Berjalan melewati sederetan ruko. 

Mendekati ujung jalan, gue dikagetkan oleh pemandangan orang-orang yang sedang menatap ke atas. Ke arah lantai 2 sebuah ruko. Gue melihat ke atas dan nyaris terguling karena kaget setengah mati.

Di luar jendela lantai dua, di atas atap beton lantai satu yang menjorok menutupi halaman toko, sudah berdiri dengan gagahnya dua pemuda Vietnam sambil memegangi selembar kasur springbed. Maksudnya jelas: hendak melemparkan kasur itu ke bawah, karena pasti tidak muat dikeluarkan lewat dalam rumah. 

Setelah gue tersadar dari kekagetan gue, gue langsung mengajak teman gue yang masih belum ngeh ini untuk menghindar.

‘Awas,’ kata gue, ‘ada yang mau ngelempar kasur dari atas.’

Teman gue menengadah dan terhenyak. Tidak sempat lama terhenyaknya karena sedetik kemudian seorang ibu berpiyama dan berambut keriting merepet dengan laju ke arah pemuda itu. 

Gue cuma mikir, kalo ibu itu nyuruh dua anak itu melempar kasur sementara dia di bawah, maka sang ibu kalo nggak kuat banget pasti jago kungfu.